Rabu, 08 April 2009

Kerusakan Hutan di Kalimantan


Hutan Dihabisi, Banjir Makin Menjadi-jadi

/

Sabtu, 20 September 2008 | 07:20 WIB

Dalam tiga tahun terakhir sejak 2006, Pulau Kalimantan boleh dikatakan luput dari bencana besar kebakaran hutan dan lahan serta dampak serbuan kabut asap. Itu bukan karena tidak ada kegiatan pembakaran hutan atau lahan, melainkan selama itu pulau tersebut beruntung karena tidak dilanda kekeringan panjang.

Namun, bagi yang berdiam di pulau yang kaya sumber daya alam ini bukan berarti bebas dari bencana. Pulau Kalimantan yang seharusnya sejak Juli 2008 memasuki kemarau, bahkan puncaknya September ini, justru terjadi sebaliknya.

Hujan terjadi hampir setiap hari. Tak heran bila sebagian wilayah di Kalimantan justru terjadi banjir beberapa kali karena perubahan iklim ini. Parahnya, banjir yang terjadi tidak hanya di satu lokasi, tetapi terjadi di beberapa daerah pada setiap provinsi dan cenderung terus meluas. Genangan banjir pun tidak hanya berlangsung lama, tetapi juga dalam dan sebagian berarus deras.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Palangkaraya Hidayat mengungkapkan, iklim tahun ini di Kalimantan akan turun sepanjang tahun, termasuk pada bulan-bulan musim kemarau. Kondisi ini disebut kemarau basah.

Masalahnya, hujan lebat yang turun seperti bulan Agustus lalu dua kali lipat dari kondisi normal. ”Normalnya, pada bulan Agustus cuma 100-an milimeter per bulan. Sejauh ini malah sampai 200 milimeter,” katanya.

Karena kondisi itulah, Hidayat sebelumnya mengimbau agar daerah di sisi hilir juga mewaspadai banjir kiriman dari hulu. Peringatan itu ternyata benar-benar terbukti ketika selama dua minggu kemudian banjir kiriman dari hulu menerjang kecamatan-kecamatan hilir Sungai Katingan.

Berdasarkan data Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), tercatat 19.814 keluarga di delapan kecamatan di Kabupaten Katingan terkena dampak banjir tersebut. Banjir juga menggenangi rumah milik 2.613 keluarga di empat kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Hampir bersamaan waktunya, banjir juga melanda Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Barat (Kalbar), dan Kalimantan Timur (Kaltim). Pada Agustus dan awal September ini, misalnya, tiga kabupaten penghasil pertambangan batu bara dan bijih besi di provinsi Kalsel, yakni Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru, dilanda banjir besar. Banjir di sana tidak hanya merendam rumah penduduk, tetapi menewaskan empat warga yang terjebak banjir berarus deras.

Selain kerusakan jalan trans- Kalimantan pada ruas Banjarmasin-Batulicin semakin parah, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kalsel melaporkan sedikitnya lebih dari 1.000 hektar tanaman padi puso. Kerusakan tanaman padi seluas itu akibat banjir sejak Januari hingga September terjadi enam kali. Dari 13 kota/kabupaten, sebanyak 11 kabupaten hampir setiap tahun dilanda beberapa kali banjir. Tak heran bila Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana memasukkan Kalsel pada 11 provinsi di Indonesia yang rawan bencana.

Banjir tidak hanya menggenangi dataran rendah atau pinggiran sungai. Di Balikpapan, Kaltim, yang memiliki sebagian wilayah berbukit-bukit, misalnya, juga dilanda banjir. Banjir besar yang terjadi saat bersamaan dengan Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kaltim pada Juli lalu, misalnya, disertai longsor sehingga menewaskan dua anak akibat tertimpa reruntuhan rumah.

Di Kalbar, banjir terparah justru terjadi bulan September yang melanda tiga kabupaten, yakni Kapuas Hulu, Sintang, dan Melawi. Banjir yang paling parah, berdasarkan laporan, terjadi di Kabupaten Melawi karena merendam 10.000 rumah yang dihuni sekitar 50.000 warga. Sebagian dari mereka terisolasi selama sepekan akibat kepungan banjir.

Banjir di Kalimantan ternyata tidak hanya terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan catatan Kompas, selama sembilan bulan dalam tahun 2008 hampir setiap bulan terjadi banjir. Hanya bulan Februari dan Mei yang tidak ada laporan banjir.

Kondisi ini membuktikan bahwa banjir di Kalimantan bukan sekadar besaran curah hujan lagi sebab kalau itu masalahnya, dari dulu orang di sini telah mengantisipasi dengan mendirikan rumah panggung. Yang terjadi justru ini adalah buah dari kerusakan alam semakin parah. Kondisi ini setidaknya diakui Gubernur Kalsel Rudy Ariffin saat rapat mitigasi bencana beberapa waktu lalu di Banjarmasin, Kalsel.

Kondisi kerusakan lingkungan yang paling masif adalah terus berlangsungnya pembabatan hutan. Pada Januari-Februari di Kalbar, misalnya, digemparkan dengan penangkapan 34.500 batang kayu log ilegal di Sungai Kapuas. Kayu-kayu itu diklaim hasil tebangan sekitar 800 warga Kabupaten Kapuas Hulu. Tangkapan kayu itu merupakan yang terbesar sekaligus melibatkan pelaku terbanyak dalam sejarah penangkapan pembalakan liar di Kalbar.

”Kami terpaksa menebang kayu di sekitar Sungai Kapuas untuk bertahan hidup setelah hampir sebulan pada Desember 2007 desa kami tergenang banjir hingga 4 meter. Gara-gara terendam banjir, ladang kami gagal panen, menoreh getah karet tidak bisa, mencari ikan juga sulit,” kata Jor (30), warga Kecamatan Embaloh, Kabupaten Kapuas Hulu, yang ditemui beberapa waktu lalu.

Pembabatan hutan secara ilegal tidak hanya dilakukan warga di Kabupaten Ketapang, Kalbar, tetapi juga melibatkan pejabat dinas kehutanan dan kepolisian setempat. Jaringan perdagangan pun tidak hanya untuk kebutuhan lokal, tetapi juga untuk penyelundupan kayu ke Malaysia.

Tebang pohon

Menebang pohon untuk bertahan hidup pada saat banjir sudah menjadi mekanisme bertahan hidup turun-temurun masyarakat yang bermukim di daerah aliran Sungai Kapuas. Semakin tinggi dan lama banjir itu merendam permukiman dan ladang penduduk, hampir dipastikan semakin banyak pula kayu yang ditebang.

Memanfaatkan banjir untuk memilirkan kayu-kayu itu tidak hanya dilakukan rakyat, tetapi juga perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH). Cara ini ditempuh hampir di semua daerah aliran sungai (DAS) Kalimantan dan berlangsung puluhan tahun karena biayanya paling murah. Cara inilah yang dikenal banjir kap.

Semakin banyak kayu di DAS Kapuas yang ditebang, ini berarti semakin besar pula potensi banjir dengan frekuensi dan intensitas yang lebih banyak. Bencana banjir di Kalbar yang beberapa kali berlangsung dalam dua tahun terakhir ini setidaknya membuktikan hipotesis itu.

Dr Ir Gusti Zakaria Anshari MES, Ketua Pusat Penelitian Kehati dan Masyarakat Lahan Basah (PPKMLB) Universitas Tanjung Pura, Pontianak, sekaligus Ketua Forum DAS Kapuas, menilai, DAS Kapuas cukup mengkhawatirkan karena sumber daya hutan yang menjadi sumber tangkapan air juga sudah rusak. Pasalnya, selain pembabatan hutan, sekarang sebagian konversi lahan di DAS Kapuas menjadi perkebunan juga tidak direncanakan dan dilakukan dengan baik. Kondisi ini semakin parah dengan adanya penambangan emas tanpa izin (peti) di Sungai Kapuas.

”Sungai Kapuas sudah mengarah ke kondisi genting. Perlu penanganan serius agar jangan telanjur parah dan akan semakin sulit untuk mengobatinya,” kata Gusti.

Panjang Sungai Kapuas, kata Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kapuas Suhartadi, sekitar 1.086 kilometer dan memiliki DAS 10,15 juta hektar. Sekitar 2,2 juta dari DAS itu termasuk kritis dan bahkan 607.253 hektar di antaranya dalam kondisi sangat kritis. DAS Kapuas yang tergolong agak kritis mencapai 4,24 juta hektar dan yang berpotensi kritis 2,89 juta hektar. ”Deforestasi, penambangan liar, serta perubahan fungsi lahan turut memengaruhi kekritisan DAS Kapuas,” kata Suhartadi.

Data Dinas Kehutanan Kalbar menunjukkan, dari total kawasan hutan di Kalbar yang mencapai 9,1 juta hektar, sekitar 2,1 juta hektar di antaranya tergolong lahan kritis. Di luar kawasan hutan, ada sekitar 3 juta hektar lahan yang kritis. Pada pertengahan tahun lalu, Masyarakat Perhutanan Indonesia Komda Kalbar sempat merilis, laju kerusakan hutan di Kalbar hampir 165.000 hektar per tahun atau 23 kali luas lapangan sepak bola per jam.

Jumlah kasus pembalakan liar di Kalbar yang turut mempercepat laju kerusakan hutan tergolong memprihatinkan. Dinas Kehutanan Kalbar mencatat, terdapat 406 kasus pembalakan liar di Kalbar dalam kurun waktu 2005-2007. Selain itu, kegiatan penambangan emas ilegal di pinggir-pinggir sungai di Kalbar juga cukup memprihatinkan. Data Dinas Pertambangan Kalbar tahun 2005 mencatat ada 1.480 peti yang melibatkan sekitar 10.093 penambang.

Keberadaan peti itu juga banyak memakai bahan kimia merkuri yang berpotensi mencemari sungai. Kerusakan lingkungan ini terus bertambah karena rehabilitasi lahan di Kalbar melalui program Gerakan Rehabilitasi Lahan dalam kurun waktu 2004-2006 sendiri baru 40.090 hektar.

DAS Kritis

Kondisi DAS yang sebagian kritis juga ada di 26 sungai besar lainnya di Kalbar. Tercatat dari 27 sungai di Kalbar yang memiliki DAS 14,86 juta hektar, sekitar 1,34 juta hektar pada kondisi sangat kritis, 2,1 juta hektar dalam kondisi kritis, 6,14 juta hektar dalam kondisi agak kritis, dan 3,73 juta hektar dalam kondisi potensial kritis.

”Jika kondisi ini tidak segera ditangani oleh berbagai pihak, bencana banjir yang lebih luas bisa menjadi ancaman serius bagi wilayah Kalbar,” kata Suhartadi.

Ironis lagi, di tengah parahnya kerusakan hutan Kalbar, ternyata masih ada sedikitnya 62 izin perkebunan kelapa sawit di Kalbar yang diterbitkan di kawasan hutan seluas 430.810 hektar. Jika persoalan tumpang tindih izin ini tidak ditangani serius, bukan mustahil banjir yang terjadi semakin meluas akibat konversi hutan tersebut.

Fakta kerusakan DAS yang paling parah juga terjadi di Kalsel. Meski daerah ini hanya tinggal satu HPH yang beroperasi, kerusakan hutan terus berlangsung akibat pembukaan lahan untuk pertambangan batu bara dan bijih besi berlangsung besar-besaran sejak tahun 80-an. Tak heran bila kawasan Pegunungan Meratus yang menjadi daerah sumber aliran utama sungai-sungai di Kalsel dipenuhi lubang-lubang tambang yang menganga. Ironisnya, sebagian besar yang sudah tidak ditambang lagi ditinggalkan tanpa reklamasi.

Semestinya, kata Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalsel Rakhmadi Kurdi, DAS yang baik itu minimal 30 persen berupa hutan utuh pada satu wilayah kabupaten.

Akan tetapi, fakta di Kalsel, hutan gundul sangat luas, lubang bekas tambang yang tidak direklamasi juga terus bertambah. Dampaknya, erosi pun semakin besar, sungai-sungai akhirnya mendangkal dan bisa dipastikan ketika banjir air meluap ke mana-mana bahkan berarus deras. ”Untuk mengatasi ini, kuncinya tidak hanya menghentikan pembabatan kayu dan pengendalian pembukaan tambang, yang lebih penting bagaimana semua pihak serius mengembalikan daerah-daerah yang mengalami kerusakan tersebut, termasuk lahan kritis menjadi hijau kembali. Jika tidak, bencana banjir semakin menjadi-jadi,” katanya.

Budi, warga Katingan, Kalteng, menambahkan, pihaknya meminta kepada pemerintah lokal agar dalam melakukan reboisasi hutan yang gundul di pedalaman melibatkan masyarakat. ”Jangan mereka diam saja dan hanya bisa mendirikan pos kesehatan dan kasih sedikit bantuan saat banjir tiba,” ujarnya./kompas.

kayu olahan yang di tinggalkan oleh perambah hutan (Kalbar)


Pembukaan jalan raya, di (kalbar)


Bekas penebangan hutan Manggrov di jadikan tambak (Kalbar)


Hutan manggrov di tebas akan di jadikan tambak (Kalbar)


Bekas tebangan yang di tinggal begitu saja (Kalbar)


Pencurian kayu oleh masyarakat sekita hutan (Kalbar)


Penebangan liar yang tidak bertanggung jawab (Kalbar)
koleksi foto heri rizha vahlevi.

hutan lindung rusak di kaki gunung cikuray


Perambahan hutan lindung di gunung Cikuray kabupaten Garut terjadi oleh masyarakat sekitar, tanpa mempedulikan lingkungan yang akan mengakibatkan perubahan alam yang tidak di inginkan seperti tanah longsor, banjir, sumber mata air akan hilang. Hutan lindung yang ada di kaki gunung cikuray sebenarnya tidak boleh di rambah apa lagi di tebang dimana hutan ini di jadikan sebagai penyangga kehidupan dan tataair, sehingga masyarakat di sekitar gunung bisa menikmati alamnya yang tinggal tersisa ini.

Agroforestri di hutan pinus


(Tampak pada gambar Agroforestri di hutan pinus cikuray KPH Garut), Agroforestri merupakan salah satu alternatif bentuk penggunaan lahan terdiri dari campuran pepohonan, semak dengan atau tanpa tanaman semusim dan ternak dalam satu bidang lahan. Melihat komposisinya yang beragam, maka agroforestri memiliki fungsi dan peran yang lebih dekat kepada hutan dibandingkan dengan pertanian, perkebunan, lahan kosong atau terlantar.

Sampai batas tertentu agroforestri memiliki beberapa fungsi dan peran yang menyerupai hutan baik dalam aspek biofisik, sosial maupun ekonomi. Agroforestri merupakan salah satu sistem penggunaan lahan yang diyakini oleh banyak orang dapat mempertahankan hasil pertanian secara berkelanjutan. Agroforestri memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap jasa lingkungan (environmental services) antara lain mempertahankan fungsi hutan dalam mendukung DAS (daerah aliran sungai), mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, dan mempertahankan keanekaragaman hayati.

Sistem agroforestri dapat mempertahankan sifat-sifat fisik lapisan tanah atas yang diperlukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman, melalui:

· Adanya tajuk tanaman dan pepohonan yang relatif rapat sepanjang tahun menyebabkan sebagian besar air hujan yang jatuh tidak langsung ke permukaan tanah sehingga tanah terlindung dari pukulan air yang bisa memecahkan dan menghancurkan agregat menjadi partikel-partikel yang mudah hanyut oleh aliran air.Sistem agroforestri dapat mempertahankan kandungan bahan organic tanah di lapisan atas melalui pelapukan seresah yang jatuh ke permukaan tanah sepanjang tahun. Pemangkasan tajuk pepohonan secara berkala yang di tambahkan ke permukaan tanah juga mempertahankan atau menambah kandungan bahan organik tanah. Kondisi demikian dapat memperbaiki struktur dan porositas tanah serta lebih lanjut dapat meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas menahan air

· Sistem agroforestri pada umumnya memiliki kanopi yang menutupi sebagian atau seluruh permukaan tanah dan sebagian akan melapuk secara bertahap. Adanya seresah yang menutupi permukaan tanah dan penutupan tajuk pepohonan menyebabkan kondisi di permukaan tanah dan lapisan tanah lebih lembab, temperatur dan intensitas cahaya lebih rendah. Kondisi iklim mikro yang sedemikian ini sangat sesuai untuk perkembangbiakan dan kegiatan organisme. Kegiatan dan perkembangan organisme ini semakin cepat karena tersedianya bahan organik sebagai sumber energi. Kegiatan organisme makro dan mikro berpengaruh terhadap beberapa sifat fisik tanah seperti terbentuknya pori makro (biopores) dan pemantapan agregat. Peningkatan jumlah pori makro dan kemantapan agregat pada gilirannya akan meningkatkan kapasitas infiltrasi dan sifat aerasi tanah.

populasi burung merak di gunung cikuray garut


RINGKASAN

Heri Rizha Vahlevi. ANALISIS POPULASI DAN HABITAT BURUNG MERAK HIJAU (Pavo muticus Linnaeus, 1766) DI HUTAN GUNUNG CIKURAY KPH GARUT, PERUM PERHUTANI UNIT III JAWA BARAT DAN BANTEN. Di bawah bimbingan: Ichsan Suwandhi, S.Hut., M.P. dan Ir. Asep Purwanto, M.M.

Burung merak di dunia ini terdapat dua species yaitu burung merak India atau merak biru (Pavo cristatus Linnaeus, 1766) yang tersebar di daerah India dan Srilangka, dan burung merak hijau (Pavo muticus Linnaeus, 1766) yang tersebar di daerah Burma, Thailand, Indochina, Malaysia dan di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Penyebaran merak hijau di pulau Jawa terpencar secara lokal terdapat pada ketinggian dari 0 mdpl hingga ketinggian sampai 1500m (Mackinnon, 1990).

Merak Hijau (Pavo muticus Linnaeus 1766) merupakan salah satu jenis burung di Indonesia yang langka dan dilindungi. Burung ini dilindungi berdasarkan SK Mentan No. 66 / Kpts / Um / 2 / 1973, Surat Keputusan Menteri Kehutanan tanggal 10 Juni 1991 No. 301 / Kpts-II / 1991 dan PP RI No. 7 Th 1999 Tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. Berdasarkan IUCN ( International Union For Conservation Of Nature and Natural ) status merak hijau dikategorikan ke dalam vulnerable ( Rentan ). Sedangkan dalam status perdagangan CITES ( Convention for the International Trade in Endangered Spesies of Fauna end Flora ). Merak hijau termasuk kedalam Appendix II yaitu satwa yang langka dan dilindungi dalam perdagangannya, tetapi masih bisa di perdagangkan hanya jumlah yang terbatas.

Berdasarkan informasi dari Masyarakat dan hasil penelitian terakhir di ketahui bahwa kawasan hutan Gunung Cikuray (terutama pada tegakan pinus) merupakan tempat ditemukannya burung merak hijau. Namun kondisi populasi dan habitatnya sekarang ini terancam rusak, sehingga kelestariannya benar-benar perlu dijaga agar tidak terjadi kepunahan.

Penelitian dilaksanakan di kawasan hutan Gunung Cikuray, BKPH Bayongbong, KPH Garut, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, selama sekitar satu bulan terhitung mulai pada bulan Maret hingga April 2007.

Pengamatan terhadap populasi merak hijau dilakukan dengan metode transek jalur (Strip Transect) dengan panjang jalur 1000 m dan lebar jalur dicatat dalam beberapa kali perjumpaan dengan menggunakan kompas. Pengamatan dilakukan pada pukul 06.00-08.00 dan pukul 16.00-18.00 Wib.

Pengamatan habitat didekati dengan kondisi vegetasi di habitat merak hijau untuk masing-masing tipe penggunaan (makan, minum, berlindung, tidur dan berkembangbiak). Untuk mendapatkan gambaran vegetasi secara umum digunakan metode jalur dan garis berpetak dengan petak tunggal 20 x 20 m.

Pendugaan populasi merak mijau menggunakan metode transek jalur (Strip Transect). Persamaan King (King Methods).

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan di kawasan hutan Gunung Cikuray, ditemukan pendugaan populasi burung merak hijau berjumlah 13 ekor dengan kepadatan populasinya 3 individu/ha. Hal ini sangat dipengaruhi adanya penjarahan kayu pinus dan perambahan lahan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk bercocok tanam.

Jumlah burung merak yang berada di hutan pinus berjumlah 4 ekor, dengan ketinggian 1600 mdpl, ini dikarenakan jumlah pakan yang sedikit dan vegetasi tumbuhan bawah yang tebal di dominasi oleh Tembelekan (Lantana camara) dimana tumbuh mencapai 1- 2 m dan memiliki percabangan yang banyak dan lebar sehingga timbul persaingan antar vegetasi yang kuat. Sedangkan di lahan pertanian jumlah merak mencapai 8 ekor ini di sebabkan variasi pakan yang tersedia dan banyak. Untuk hutan alam di jumpai satu ekor burung merak haya terdengar suara, berarti aktifitas ada tetapi tidak sepenuhnya berada di hutan alam dimana vegetasi tumbuhan bawah sangatlah jarang sehingga ketersediaan pakan sangat tidak mencukupi. .

Sex ratio merak hijau di kawasan hutan Pinus Cikuray adalah 1 : 4 berdasarkan jumlah jantan dan betina, dari pendugaan populasi merak hijau berjumlah 13 ekor. Hal ini menunjukan ke arah sistem perkawinan polygami, Sex ratio dan struktur umur merak hijau di kawasan hutan pinus Cikuray dipengaruhi oleh pergantian musim sehingga struktur umur pada penelitian ini adalah semuanya dewasa dan belum masanya berkembang biak.

Habitat merak hijau di kawasan Gunung Cikuray di temukan beberapa tipe habiat diantaranya : Hutan pinus, Hutan alam, Semak belukar dan Lahan pertanian

Kondisi sekarang ini sudah mulai rusak akibat ulah Masyarakat sekitar yang tidak bertanggung jawab seperti pembukaan lahan, penebangan kayu.

Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan data bahwa areal terbuka di kawasan hutan Gunung Cikuray merupakan tempat makan bagi merak hijau yang meliputi areal Semak belukar, dan areal lahan pertanian masyarakat. Lokasi tempat berlindung merak hijau di kawasan hutan Gunung Cikuray adalah di Pohon pinus,

Gangguan terhadap burung merak di hutan Gunung cikuray adalah pembukaan lahan, pencurian kayu, perburuan dan pengunjung makam keramat.

Hama Boktor (Xystrocera festiva, ordo Coleoptera) pada Sengon


Hama Boktor (Xystrocera festiva, ordo Coleoptera)

Titik awal serangan hama boktor adalah adanya luka pada batang. Umumnya telur diletakkan pada celah luka di batang. Telur baru ditandai utuh, belum berlubang-lubang; bila telur sudah berlubang-lubang dimungkinkan bahwa telur sudah menetas.

Sejak larva keluar dari telur yang baru beberapa saat menetas, larva sudah merasa lapar dan segera melakukan aktivitas penggerekan ke dalam jaringan kulit batang di sekitar lokasi dimana larva berada. Bahan makanan yang disukai larva boktor adalah bagian permukaan kayu gubal (xylem) dan bagian permukaan kulit bagian dalam (floem). Adanya serbuk gerek halus yang menempel pada permukaan kulit batang merupakan petunjuk terjadinya gejala serangan awal.

Pengendalian Hama Boktor

Ada 6 prinsip pengendalian hama boktor pada tegakan sengon, yaitu cara silvikultur, manual, fisik/mekanik, biologis, kimiawi dan terpadu.

Pengendalian secara silvikultur dilakukan dengan :

ü Upaya pemuliaan, melalui pemilihan benih/bibit yang berasal dari sengon yang memiliki ketahanan terhadap hama boktor.

ü Penebangan pohon terserang dalam kegiatan penjarangan (Tebangan E).

Pengendalian secara manual, antara lain dilakukan dengan :

ü Mencongkel kelompok telur boktor pada permukaan kulit batang sengon,

ü menyeset kulit batang tepat pada titik serangan larva boktor sehingga larva boktor terlepas dari batang dan jatuh ke lantai hutan

ü diperlukan ketrampilan petugas dalam mengenali tanda-tanda serta gejala awal serangan hama boktor.

Pengendalian secara fisik/mekanik, antara lain dilakukan dengan :

ü kegiatan pembelahan batang sengon yang terserang boktor,

ü pembakaran batang terserang boktor sehingga boktor berjatuhan ke tanah,

ü dengan cara pembenaman batang terserang ke dalam tanah.

Pengendalian secara biologis, dilakukan dengan :

ü menggunakan peranan musuh alami berupa parasitoid, predator atau patogen yang menyerang hama boktor,

ü caranya dengan membiakkan musuh alami kemudian melepaskannya ke lapangan agar mencari hama boktor untuk diserang, musuh alami ini diharapkan akan mampu berkembang biak sendiri di lapangan.



Pengendalian secara terpadu, dilakukan dengan :

ü penggabungan dua atau lebih cara pengendalian guna memperoleh hasil pengendalian yang lebih baik;

ü contohnya pengendalian dengan cara menebang pohon yang terserang, kemudian batang yang terserang tersebut segera dibakar atau dibelah agar tidak menjadi sumber infeksi bagi pohon yang belum terserang.