Rabu, 24 Juni 2009


Lingkungan Rusak, Harimau ke Kampung
Kamis, 26 Februari 2009 | 09:51 WIB

PEKANBARU, KAMIS — Kematian tiga ekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Tanjung Pasar Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, dikecam beberapa organisasi pencinta lingkungan. Selain itu, kerusakan lingkungan juga diduga menjadi penyebab hewan langka itu masuk ke perkampungan penduduk.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Riau dan Yayasan Program Konservasi Harimau Sumatera (PKHS), Rabu (25/2), menyayangkan kematian hewan langka itu. Ketua Yayasan PKHS Bastoni di Pekanbaru menyatakan duka atas matinya tiga ekor harimau sumatera di Indragiri Hilir. ”Jika PHKS mendapat informasi ada harimau masuk kampung, kami pasti menurunkan tim untuk mencegah korban dari dua belah pihak,” katanya.

Seperti diberitakan, tiga harimau sumatera mati dijerat warga di Tanjung Pasar Simpang. Warga diduga balas dendam setelah satwa dilindungi itu memangsa ternak (Kompas, 25/2).

Berdasarkan keterangan salah seorang saksi mata, harimau yang terjerat ditemukan dalam kondisi hidup sebelum dibantai dengan tombak sampai mati.

Bastoni menyebutkan, fenomena masuknya harimau ke perkampungan penduduk di beberapa provinsi di Sumatera belakangan ini berhubungan dengan kerusakan lingkungan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Rachman Sidik mengungkapkan, pihaknya telah membentuk satu tim khusus untuk menyelidiki kematian tiga ekor harimau di Indragiri Hilir.

Enam tewas di Jambi

Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi dan WWF Indonesia, dalam keterangan persnya, Rabu, menyerukan pentingnya penghentian konversi hutan alam di provinsi itu sesegera mungkin demi keselamatan publik dan harimau sumatera. Itu perlu dilakukan menyusul tewasnya enam orang di Jambi akibat serangan hewan dilindungi itu satu bulan ini.

”Tiga orang yang tewas diterkam harimau akhir pekan lalu diduga pelaku illegal logging (penebangan liar),” kata Kepala BKSDA Jambi Didy Wurjanto.

BKSDA Jambi dan aparat setempat melakukan patroli penghentian aktivitas pembukaan hutan untuk mengantisipasi berlanjutnya serangan harimau sumatera terhadap warga.

Pemburu dibekuk

Sementara itu, di Padang, Kepala BKSDA Sumatera Barat Indra Arinal mengatakan, ada kemungkinan harimau remaja yang sampai ke permukiman penduduk di daerah itu karena kehilangan induk. Perburuan liar menjadi penyebab kematian harimau induk.

Di tengah fenomena kemunculan harimau di permukiman, seorang pemburu harimau, Sf, dua pekan lalu ditangkap polisi. Bersama Sf ditemukan satu kulit harimau serta sejumlah tulang-belulang. Diduga, kulit dan tulang itu siap dipasarkan ke pasar gelap di Riau. Sf mengakui pemburuan harimau dilakukan demi uang Rp 6 juta yang dijanjikan pembeli. (sah/art/mul),/kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar